Sekali merdeka tetap M-E-R-D-E-K-A !

TUGAS UAS

Teknologi Informasi Komunikasi

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information and Communication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.

Sejarah
Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama yaitu temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957. Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai saat ini. Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi – komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi – komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.

Penerapan TIK dalam Pendidikan di Indonesia
Indonesia pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta Dictionary mendeskripsikan telematics sebagai telecommunication + informatics (telekomunikasi + informatika) meskipun sebelumnya kata itu bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital. Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Indonesia telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Inisiatif menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya melakukan penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Hal ini adalah wujud dari kesadaran untuk mengoptimalkan pendayagunaan teknologi dalam membantu proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran bersifat searah yaitu dari narasumber atau fasilitator kepada pembelajar. Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer. Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.

Buku Elektronik
Buku elektronik atau e-book adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat diintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional. Jenis e-book paling sederhana adalah yang sekedar memindahkan buku konvensional menjadi bentuk elektronik yang ditayangkan oleh komputer. Dengan teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam satu keping CD atau compact disk (kapasitas sekitar 700MB), DVD atau digital versatile disk (kapasitas 4,7 sampai 8,5 GB) maupun flashdisk (saat ini kapasitas yang tersedia sampai 16 GB). Bentuk yang lebih kompleks dan memerlukan rancangan yang lebih cermat misalnya pada Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica yang merupakan ensiklopedi dalam format multimedia. Format multimedia memungkinkan e-book menyediakan tidak saja informasi tertulis tetapi juga suara, gambar, movie dan unsur multimedia lainnya. Penjelasan tentang satu jenis musik misalnya, dapat disertai dengan cuplikan suara jenis musik tersebut sehingga pengguna dapat dengan jelas memahami apa yang dimaksud oleh penyaji.

E-learning
Beragam definisi dapat ditemukan untuk e-learning. Victoria L. Tinio, misalnya, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi. Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet sering disebut sebagai online learning. Definisi yang lebih luas dikemukakan pada working paper SEAMOLEC, yakni e-learning adalah pembelajaran melalui jasa elektronik. Meski beragam definisi namun pada dasarnya disetujui bahwa e-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi tersebut tercakup siaran radio maupun televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk e-learning. Meskipun radio dan televisi pendidikan adalah salah satu bentuk e-learning, pada umumnya disepakati bahwa e-learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan teknologi internet. Internet-based learning atau web-based learning dalam bentuk paling sederhana adalah website yang dimanfaatkan untuk menyajikan materi-materi pembelajaran. Cara ini memungkinkan pembelajar mengakses sumber belajar yang disediakan oleh narasumber atau fasilitator kapanpun dikehendaki. Bila diperlukan dapat pula disediakan mailing list khusus untuk situs pembelajaran tersebut yang berfungsi sebagai forum diskusi. Fasilitas e-learning yang lengkap disediakan oleh perangkat lunak khusus yang disebut perangkat lunak pengelola pembelajaran atau LMS (learning management system). LMS mutakhir berjalan berbasis teknologi internet sehingga dapat diakses dari manapun selama tersedia akses ke internet. Fasilitas yang disediakan meliputi pengelolaan siswa atau peserta didik, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan proses pembelajaran termasuk pengelolaan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan komunikasi antara pembelajar dengan fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas ini memungkinkan kegiatan belajar dikelola tanpa adanya tatap muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat (administrator, fasilitator, peserta didik atau pembelajar). ‘Kehadiran’ pihak-pihak yang terlibat diwakili oleh e-mail, kanal chatting, atau melalui video conference.
ARISTO RAHADI Blog
PERAN TIK DALAM PEMBELAJARAN
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
1. dari pelatihan ke penampilan,
2. dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja,
3. dari kertas ke “on line” atau saluran,
4. fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja,
5. dari waktu siklus ke waktu nyata.

Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
1. e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan,
mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
2. pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan
menggunakan teknologi internet yang standar,
3. memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di
balik paradigma pembelajaran tradisional.

Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan
proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka
antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas. Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan
jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses
pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan dalam tema “Asia in the New Millenium” yang memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan yang akan terjadi di Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. termasuk di dalamnya pengaruh revolusi internet dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul “Rebooting:The Mind Starts at School”. Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai “cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.
1. Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa:
komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan
materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau
didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara,
2. Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode
sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb.
3. Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet,
permainan, musik, dan TV,
4. alat-alat musik,
5. alat olah raga, dan
6. bingkisan untuk makan siang.

Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar. Meskipun teknologi informasi komunikasi dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh.
Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan
peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan,
menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki
kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untukmembimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing. Pergeseran pandangan tentang pembelajaran Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu:
1. siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru,
2. harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural
bagi siswa dan guru, dan
3. guru harus memilikio pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan
alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar
mencapai standar akademik.
Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran
pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada pada masa sekarang),proses pembelajaran dipandang sebagai:
1. sesuatu yang sulit dan berat,
2. upaya mengisi kekurangan siswa,
3. satu proses transfer dan penerimaan informasi,
4. proses individual atau soliter,
5. kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada
satuan-satuan kecil dan terisolasi,
6. suatu proses linear.

Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai:
1. proses alami,
2. proses sosial,
3. proses aktif dan pasif,
4. proses linear dan atau tidak linear,
5. proses yang berlangsung integratif dan kontekstual,
6. aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan
kulktur siswa,
7. aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan
pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.

Hal itu telah menguban peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari:
1. sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli materi,
dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran,
pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar;
2. dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran,
menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung
jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran.
Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan
yaitu:
1. dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran
2. dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan,
3. dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.
Kreativitas dan kemandirian belajar Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya, kedua, kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, ketiga, kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yang kuat, rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, dapat ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal.

Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.
Peran guru Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar. Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionalismenya.

Referensi
Haryanto, Edy. (2008). Teknologi Informasi dan Komunikasi: Konsep dan Perkembangannya. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Sebagai Media Pembelajaran

TUGAS UTS

 Teknologi Informasi dan Komunikasi

Pemanfaatan Teknologi dan Komunikasi (TIK) dalam pendidikan, termasuk pembelajaran bahasa, merupakan sebuah respon positif terhadap perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada era millennium ketiga ini. Pemanfaatan TIK dalam mendukung pembelajaran bahasa merupakan suatu keputusan cerdas untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. namun demikian, yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan penguasaan TIK guru dan siswa sebagai kecakapan hidup dalam era teknologi yang terus melaju dan berkembang pesat (Hartoyo, 2009)

Materi dalam bab ini sebagian besar terkait dengan wacana terbaru seputar TIK dalam pembelajaran bahasa; termasuk mengulas beberapa konsep dasarTIK; TIK dalam pengertian umum; perangkat TIK dan pemanfaatannya di bidang pendidikan; aplikasi mutakhir TIK dalam pembelajaran bahasa; dan kelebihan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran bahasa. Pada akhir setiap bahasa juga dilengkapi berbagai latihan seputar pemahaman dan aplikasi TIK dalam pembelajaran bahasa

TIK merupakan istilah yang umum kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Di antara kita mungkin membayangkan sebuah computer, internet, atau gadget komunikasi ketika kita mendengar istilah TIK. Para pakar telah mendefinisikan apa arti TIK; banyak definisi TIK telah dikemukakan sesuai dengan pemahaman dan sudut pandang masing-masing pakar. Namun demikian, tidak ada definisi yangditerima secara universal, karena konsep, metode, dan penerapannya senantiasa berkembang dan berubah seiring dengan perkembangan teknologi. TIK berasal dari istilah ICT yang merupakan kependekan dari Information and Communication Technology (Teknologi informasi dan Komunikasi). Istilah TIK tersusun dari tiga huruf yang berbeda tetapi merupakan yang memiliki makna erat.

Teknologi berasal dari kata techno yang berarti teknik, seni atau ketrampilan, dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Sehingga, teknologi dapat didefinisikan sebagai sebuah pengetahuan ilmiah, seni, atau ketrampilan. Zen (dalam Effendy, 2003:399) menjelaskan bahwa teknologi terdiri atas ilmu pengetahuan alam atau pengetahuan umum dan keahlian teknik. Komponen teknologi dihubungkan yang digunakan.

Informasi adalah data yang diproses dalam bentuk yang bermakna (Shore, 1988:22). Jika dihubungkan dengan pembelajaran bahasa, informasi merupakan objek atau pesan yang kita peroleh, teruskan, dan pertukaran untuk tujuan tertentu.

Levis (1996:6) mendefinisikan komunikasi sebagai “interaction process between communicator and communicant (interlocutor). Communicator gives message to the communicant in a certain limited time and space by a certain media and method”. Menurut Levis, komunikasi adalah proses interaksi antara komunikator dan komunikan (lawan bicara). Komunikator pesan kepada komunikan pada waktu dan tempat tertentu dengan media dan metode tertentu.

Sedangkan Hubbley (1993:45) menyatakan bahwa “communication involves the transfer between people of information including ideasm emotions, knowledge and skills”. Jadi menurut Hubbley, komunikasi merupakan proses penyampaian informasi antar individu, termasuk gagasan, emosi, pengetahuan, dan ketrampilan.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan TIK adalah Teknologi yang berfungsi atau yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung komunikasi atau penyampaian informasi.

Berikut ini beberapa contoh teknologi yang dapat digolongkan sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Teknologi ini membantu memadukan dua media atau lebih seperti teks, grafik, audio, video gerak, video statis atau animasi, hingga menjadi aplikasi berbasis komputer. Multimedia umumnya digunakan untuk mendesain pembelajaran dan penyampaian informasi secara interaktif, baik menggunakan stand-alone computer maupun komputer yang dihubungkan dengan jaringan, off-line maupun on-line. Terknologi ini terdiri dari sebuah komputer dengan microprocessor, monitor warna dengan resolusi tinggi, harddisc dengan kapasitas besar, CD-ROM, disc drive (flashdisc), dan speaker stereo (London et al, 1995:158-161)

Televisi merupakan alat yang dapat mengubah pencitraan visual (dengan suara) menjadi sinyal-sinyal elektrik, kemudian mentransmisikannya melalui radio atau peralatan lain, dan menampilkannya secara elektronik pada sebuah layar (Oxford-cod).

Sebuah perangkat elektronik yang memiliki kemampuan untuk menerima informasi (data), mengolah data dengan serangkaian instruksi operasi logis, dan program untuk memproduksi hasil dalam bentuk sinyal maupun informasi (Oxford-cod). Komputer terdiri atas Central Processing Unit (CPU), monitor, dan beberapa perangkat yang lain seperti hard disc, dan sebagainya.

Sekarang ini, hampir semua komputer dilengkapi dengan sound system, termasuk speaker dan Soundcard. Beberpa komputer juga memiliki subwoofer atau speaker tambahan yang dirancang untuk menghasilkan kualitas suara yang bagus, dengan efek bass yang mantap, Bahkan kini beberapa komputer telah dilengkapi soundcard bawaan yang menyatu pada motherboard-nya.

MIDI (Musical Instrument Digital Interface) adalah interface instrument musik digital yang memungkinkan pengguna untuk mengakses synthesizer dalam komputer sehingga menghasilkan suara/musik yang lebih baik. Dlam system operasinya, MIDI memerlukan perangkat lunak antara lain perekam musik MIDI yang kompatibel dengan program editing, dan perangkat keras yang berupa soundcard MIDI, sera kabel MIDI untuk menghubungkan synthesizer.

Media ini menyediakan fasilitas atau contoh interaksi antara manusia dengan komputer. Dengan fasilitas ini, orang dapat berinteraksi dengan komputer secara lebih intuitif dan mudah, melalui tulisan, suara, sentuhan, gerak mata, dan bahasa tubuh yang lain. Teknologi ini berperan sebagai batu pijakan pertama pengembangan multimedia interaktif terbaru, telekonferensi komputer audio-grafis, televise interaktif via satelit, dan telematika atau telemedia yang menggunakan suatu seri teknologi yang mulai marak pada akhir tahun 1980-an (National Broadband of Employment Education and Training, 1993:5)

                                                Pada awalnya, telematika menghubungkan jaringan audio (konferensi audio, telepon bebas genggam), jaringan dokumen (fax), dan visual atau grafis (komputer dengan modem dan hubungan telepon). Contoh telematika terbaru diantaranya adalah konferensi televise dan video interaktif (National Broadband of Employment, Education and Training, 1993:41)

Internet merujuk pada sebuah system informasi global berbasis komputer, yang terdiri atas beberapa jaringan komputer yang saling berhubungan. Setiap jaringan mungkin dapat memiliki puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan komputer yang saling bertautan. Hal ini memungkinkan komputer-komputer terbagi dan memproses informasi dama satu “klik” pada mouse. Sedangkan Website adalah koleksi halaman-halaman web, gambar, video atau aset digital lainnya yang dialamtkan dengan nama domain atau alamat IP tertentu dalam jaringan berbasis Protokol Internet.

Seiring dengan perkembangan teknologi, TIK didukung dengan system komputer jaringan yang memungkinkan jaringan yang memungkinkan orang berkomunikasi secara tatap muka dan mendengar suara secara langsung, walaupun mereka yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut tidak berada pada satu tempat yang sama. Memahami peran vital komputer dalam TIK, walaupunn tidak sepenuhnya benar, banyaknya orang menganggap bahwa TIK adalah komputer. Hal ini dapat dimaklumi karena komputer memang merupakan bagian utama dalam mendukung pemanfaatan TIK.

TIK dalam sudut pandang pendidikan merujuk pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seperti perkomputeran, fasilitas komunikasi, dan fitur-fitur yang bervariasi untuk mendukung pengajaran, pembelajaran, dan berbagai aktivitas pendidikan (QSA Shemes of work for ICT dalam Kent County Council, 2004). TIK dapat didefinisikan sebagai cara, media, atau teknologi untuk menyimpan, mengembalikan, memanipulasi, meneruskan, dan menerima data atau informasi digital. Selain itu, pengertian ini merujuk pula pada cara  menggunakan perangkat yang berbeda dan memadukan satu perangkat dengan yang lain. Oleh karena itu, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat didefinisikan sebagai teknologi yang berguna untuk mendukung proses komunikasi, atau penyampaian informasi dari pengirim ke penerima informasi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi, temasuk teknologi komputer, memiliki peran utama dalam menunjang pembelajaran bahasa dengan bantuan komputer yang dikenal dengan istilah CALL (Computer-Assisted Language Learning) (Fitzpatrick dan Davies, 2002). Aplikasi TIK yang dipadukan dengan internet memiliki manfaat seperti dijelaskan oleh Herington (2002), antara lain: 1) dapat memberikan pengalaman belajar dalam bahasa sasaran; 2) memberikan akses terhadap sumber-sumber informasi pembelajaran yang lebih luas dalam berbagai macam bahasa; 3) Memberikan kesempatan peserta didik untuk berkomunikasi dengan dunia luar; 4) memungkinkan pendekatan berpusat pada pengembangan siswa; dan 5) menunjang pengembangan otonomi siswa dalam belajar.

Perangkat TIK yang tersedia diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman dan menambah wawasan dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, penggunaan papan tulis interaktif unit proyeksi video, mikroskop yang dihubungkan dengan komputer, spreadsheet yang telah dipersiapkan untuk menerima dan menampilkan data, CD-ROMs, presentasi dengan video, dan sumber pembelajaran yang dipilih secara selektif dari internet, merupakan contoh bagaimana TIK Dpat diaplikasikan untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi pembelajaran secara tepat sasaran (DfES, 2004).

Pemanfaatan teknologi yang tepat memungkinkan siswa belajar lebih efektif dan lebih baik sesuai dengan kemampuan mereka. Selain itu, siswa dapat memperoleh akses yang lebih luas dalam proses pembelajaran, serta dapat mengatur waktu belajar mereka sendiri (UK e-strategy dalam Becta 2005c p8). Menyadari kelebihannya, kita dapat menyatakan bahwa TIK tidak hanya efektif tetapi transformasional.

Gagasan TIK sebagai media transformasional didukung oleh para pakar, antara lain Graves (2001); Garrison dan Anderson (2002). Mereka secafa tegas berpandangan bahwa teknologi baru dapat menggerakkan pendidikan dari model pendidikan tradisional, behaviorist, berpusat pada sekolah, ke arah model pendidikan yang constructivist dan berpusat pada siswa, sehingga diharapkan siswa dapat memenuhi tuntunan dunia kerja dan masyarakat. Di samping itu, TIK dapat mendorong kemandirian, pembelajaran sepanjang hayat, serta menningkatkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi (Oliver dan McLaughlin, 2000).

 

 

Konsep hypertext kali pertama dipelopori oleh Bush pada tahun 1945, yang terkenal sebagai “Bapak Hypertext”, Dia menjelaskan bahwa system yang mendasari hypertext adalah memex (memory extender). Dalan artikelnya As We May Think, Bush menyatakan, “a sort of mechanized private file and library” dan “a devide in which an individual stores his books, records, and communications, and which is mechanized so that it may be consulted with wxceeding speed and flexibility”. Bush menguraikan Memex sebagai sebuah jenis file dan perpustakaan peribadi termekanisasi, dan sebuah alat dimana seseorang menyimpan buku, rekaman, dan komunikasi, yang termekanisasi sehingga dapat mencari informasi dengan lebih leluasa dan cepat.

Berkenaan dengan memex, Nielsen (1990) menjelaskan bahwa hal-hal tersebut bersifat konvensioanal, namun system inilah yang diproyeksikan dan dikembangkan lebih lanjut menjadi system yang lebih canggih seperti yang ada sekarang ini. Nielsen menyarankan agar segaera dilakukan upaya-upaya pengembangan memex lebih lanjut. Pada prinsipnya, memex merupakan dasar dari suatu system yang memungkinkan pengguna mengakses informasi sesuai dengan kehendak (interest) dan tidak perlu berurutan (sequential) dengan segera dan secara otomatis. Menurutnya, hal ini merupakan keistimewaan fitur memex. Proses pengetikan dua item yang berbeda merupakan keunggulan utama dari sistem ini.

Sementara itu, Bush mengingatkan bahwa melimpahnya informasi ilmiah telah mengakibatkan orang lebih sulit mengikuti informasi tersebut. Sadar akan perkembangan informasi yang berlebihan, Bush kemudian melihat jauh ke masa depan bahwa memex harus dikembangkan. Oleh karena itu, berdasarkan pengalamannya, dia menciptakan referensi silang di dalam dan lintas dokumen. Pada tahap ini, memex diciptakan dengan basis microfilm dan teknologi pelacak mata (eye-tracking) agar pengguna dapat mengikuti referensi silang tersebut dengan mudah.

Konsep Hypertext ini menjadi lebih berdaya guna seiring dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi. Nelson (1967), salah saoerang pelopor hypertext, dan merupakan orang pertama yang menemukan istilah hypertext, menjelaskan bahwa ide Bush mengenai memex memberikan gambaran yang jelas mengenai hypertext. Ide Bush kemudian memicunya untuk menciptakan database on-line tunggal dari keseluruhan korpus literal yang dikenal sebagai xanadu. Xanadu ini diciptakan berdasarkan kombinasi back-end dan database local, yang memungkinkan unutk dapat merespon dengan cepat sebagian besar akses hypertext.

Minat terhadap konsep hypertext dalam ilmu pengetahuan komputer baru-baru ini dapat dijelaskan sebagai suatu kenyataan komputer, sehingga kita dapat mendukung ketidakruntutan dalam komputer, sehingga membuat pembaca lebih mudah dan cepat mengikuti referensi silang tersebut. Selain itu, komputer terkini memungkinkan kita untuk memperluas gagasan tentang teks yang hanya menyertakan teks dan gambar saja seperti layaknya teks cetak, namun juga musik, animasi, dan video, dalam sebuah hypertext yang sama.

Beberapa sistem hypertext yang sekarang ini dikembangkan dan dipasarkan secara luas adalah NoteCards yang dikembangkan oleh XEROX Parc, dan KMS oleh Knowledge System, Inc., Guide oleh OWL Internasional, Asymetrix Multimedia, ToolBook oleh Asymetrix Corporation dan Hyperties System.

                        Secara umum, hypertext berarti membaca dan menulis sesuatu dengan tidak runtut. Sebuah sistem hypertext memungkinkan pengguna untuk menautkan informasi secara bersamaan, dengan demikian menciptakan suatu jalur melalui materi-materi yang terhubung. Sebuah tautan menghubungkan beberapa kata atau kalimat dalam dokumen elektronik unutk menghubungkan informasi pada dokumen yang lain (Karen:1988)

                        Lucarella, dalam jurnal internasional “Information Processing and Management”,  dengan sederhana mendefinisikan hypertext sebagai sistem untuk mengelola sebuah koleksi informasi yang dapat dijangkau secara tidak runtut. Hypertext memuat sebuah jaringan kerja atau potongan informasi (simpul) dan referensi silang (tautan logis). Sistem hypertext memungkinkan pengguna untuk menjelajahi atau membuka informasi apapun yang tersedia didokumen tanpa harus memulainya dari dokumen pertama dengan runtut. Selain itu, pengguna juga dapat memilih informasi apapun yang diminati secara tidak runtut. Lihat ilustrasi pada Gambar 2.

                        Dari tampilan layar (layar isi), pengguna dapat langsung membuka dokumen D tanpa harus dokumen A kemudian diikuti dengan dokumen B dan C secara runtut terlebih dahulu. Seandainya pengguna tidak dapat menemukan informasi yang dicari di dokumen D, dan ingin membuka dokumen B, dia dapat langsung mengakses dokumen B. Hal ini disebabkan oleh adanya tautan antara halaman ‘isi’ pada layar layar dan dokumen D, dan tautan lain yang menghubungkan dokumen D dan B.

                        Pada mulanya istilah hypertext digunakan karena sistem ini hanya dapat menghubungkan dokumen yang beruopa text. Namun karena perkembangan teknologi memungkinkan adanya penghubung (link) antara hypertext dengan media lainnya, seperti garfik, animasi, atau suara, amaka istilah hypermedia kemudian digunakan untuk memberi penekanan pada aspek multimedia dalam sistem (komputer). Dengan demikian, meskipun multimedia berarti banyak media, dalam konteks teknologi komunikasi dan informasi, multimedia berarti suatu sistem komputer yang memungkinkan pengguna untuk menghubungkan berbagai informasi atau dokumen, yang tidak hanya berupa teks, tetapi juga berbagai media lainnya seperti animasi, grafik, gambar, video, spreadsheet, dan suara.

                        Istilah “hypertext”, secara tradisional menyiratkan bahwa sistem ini secara tersendiri berhubungan dengan jenis teks biasa. Seiring dengan perkembangan terbaru dimana ditemukan cara untuk menghubungkan hypertext dengan media yang lain seperti grafis, animasi, atau suara, istilah hypermedia kemudian sering dipakai untuk menggarisbawahi aspek multimedia dalam sistem tersebut.

                        Sebenarnya, hypermedia sama dengan hypertext. Bedanya, dengan hypermedia, selain menautkan teks, pengguna dapat menautkan media yang lain seperti grafis, video, spreadsheet, animasi, dan suara. Dengan kata lain, pengguna sistem hypermedia  dapat menautkan informasi dari berbagai jenis media yang tersedia sebagai bagaian dari teknologi terkini (Smith, 1988).

 

            Conklin (1987:38) mengemukakan beberapa kelebihan pemanfaatan hypertext, antara lain:

1)  kemudahan malacak referensi: dukungan sistem dan perangkat memungkinkan kita melacak semua referensi dengan mudah;

2)  kemudahan membuat referensi baru: pengguna dapat membuat informasi., atau sekadar memberi keterangan pada dokumen seseorang (tanpa mengubah dokumen referensi);

3)  penyusunan informasi: adanya organisasi sistem informasi hierarkis dapat memungkinkan penyusunan informasi informasi yang lebih tersturktur;

4)  gambaran global: adanya browser memungkinkan kita membuat dan menyediakan daftar isi, untuk mendukung restrukturisasi dokumen besar dan kompleks dengan lebih mudah; dengan demikian gambaran global dan lokal (simpul maupun halaman) dapat dipadukan dengan efektif);

5)  penyesuaian dokumen: bagian-bagian teks dapat dijalin dengan berbagai cara sehingga terbentuk suatu dokumen yang memungkinkan kita untuk melakukan beberapa fungsi pengolahan teks;

6)  modularitas informasi: karena bagian teks yang sama dapat dirujuk dari beberapa tempat, sehingga dapat mengurangi tumpang tindih dan penggandaan informasi yang kurang perlu; dan

7)  konsistensi informasi: referensi diletakkan pada teks, dan jika teks dipindahkan, bahkan ke dokumen lain, tautan informasi akan tetap menyediakan akses langsung pada referensi.

                        Salah satu masalah utama yang muncul ketika kita bekerja dengan sistem hypertext adalah memabantu pengguna untuk memvisalisasikan bagaimana informasi dapat bertautan? Bagaimana menunjukkan tautan antar dokumen? Serta jenis informasi apa yang bertaut pada dokumen itu? Smith (1988:39) menyatakan: “In other word, the system need to answer the question “Where am I?”, The process of folloeing links can be disorienting…” Smith menyebutkan bahwa pengguna mungkin dapat “tersesat” saat menggunakan sistem hypertext. Pertanyaan yang sering muncul “Saya berada di mana?”, “Informasi apa yang tersedia?” dan “Bagaimana saya dapat menjangkaunya?” Proses mengikuti tautan dapat menyebabkan disorientasi atau kebingungan.

                        Conklin (1987:86) Juga berpendapat bahwa: “Along with the power to organize information much complexly comes the problem of having to know (1) where you are in the network and (2) how to get to some other place thar you know (or think) exists in the network. I call this the “disorientation” problem.”Seiring dengan kemampuan untuk mengorganisir informasi dengan lebih kompleks, menurut Conklin (1987: 38), muncul beberapa permasalahan disorientasi, antara lain dapat menyebabkan pengguna kebingungan baik dalam mengetahui posisinya di dalam jaringan (network), maupun kesulitan menuju tempat/halaman lain dalam jaringan.

            Lebih jauh, Conklin menjelaskan bahwa karena hypertext memiliki kemampuan untuk bergerak dan berpotensi besar, sehingga memungkinkan penggunanya dapat tersesat. Hal ini terlihat jelas pada jaringan yang memiliki simpul yang banyak; semakin banyak simpul pada jaringan, maka semakin sulit untuk memperoleh informasi karena banyaknya simpul tersebut.

 

                        Penerapan hypertext sekarang ini terus berkembang meningat kemampuan sistem hypertext sebagai sistem media komputer yang memungkinkan pengguna untuk memandu dan mencari informasi dengan cepat. Shneiderman (1992:410) mengemukakan bahwa hypertext di berbagai bidang seperti di bawah ini.

Tentang Saya

Saya seorang guru bahasa Indonesia. Perjalanan saya menjadi guru bahasa Indonesia tidak di satu sekolah.

Pertama saya mengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri. Tetapi saya hanya sebentar mengajar di sekolah itu karena saya ingin melanjutkan kuliah. Saya tidak mau kuliah sambil kerja karena merasa tidak fokus.

Saya kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta. Saya kuliah lalui dengan lancar-lancar saja. Ketika semester tiga tak disangka dan tak diduga saya ada yang melamar padahal saya belum kenal sama sekali dengan laki-laki itu tapi sesama orang tua sudah kenal.  Bisa dibilang jodoh saya di tangan orang tua. Waktu itu pikiran saja setengah tidak sadar. Saya banyak minta pendapat teman dekat.Teman-teman hanya memberikan saran “terserah kamu, karena yang menjalani kehidupan kamu sendiri”. Dengan niat membahagiakan orang tua, saya pasrah dan berpikir, “mana ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya”.

Setelah seminggu lamaran, akhirnya saya melangsungkan akad nikah.

Setelah menikah, saya mempunyai anak perempuan. Setelah punya anak, saya dibawa suami untuk mengajar di SMA Muhammadiyah Tomang. Di sekolah itu juga saya sebentar karena  ada sesuatu hal sehingga saya harus mengundurkan diri. Hal itu adalah, saya dapat musibah pada tanggal 22 Desember 1993. Rumah ibu angkat suami yang ditempati saya kemalingan. Saya sibuk lapor polisi. Sejak kejadian itu saya tidak mau lagi tinggal di rumah itu. Saya merasa takut tinggal di rumah itu sehingga saya tidak betah tinggal di rumah yang besar dengan kebun yang luas. Saya memutuskan untuk mengontrak saja. Saya sibuk mencari kontrakan. Akhirnya saya dapat kontrakan dan pindah.

Allah punya rencana, di balik musibah pasti ada berkah.

Saya ditawarkan bekerja di sekolah yang mayoritas muridnya India oleh teman suami. Alhamdulillah tidak pakai proses seleksi apa pun saya diterima dan besoknya langsung mengajar.

Saya mengajar di Sekolah Gandhi Pasar Baru. Selama saya mengajar di Gandhi banyak suka  dan duka yang saya alami. Tahun 2005 saya keluar dari Gandhi karena ada sesuatu hal yaitu permintaan suami supaya saya punya anak lagi.

Oleh suami saya diajak melamar di SMAN 28. Samapai sekarang saya masih mengajar si SMAN 28.

Saya punya putri semata wayang. Putriku sudah menyelesaikan SMA. Alhamdulillah putriku sudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia lewat Jalur Undangan SMPTN tahun 2011.

Ini foto putriku yang bernama Nizma Permaisuari.

Putriku Nizma

Saya dan putri saya punya kesamaan, diantaranya traveling. Walaupun masih kecil dia bisa jalan-jalan tanpa mengenal lelah. Ini salah satu dokumentasi ketika pergi ke Monas.

Saya membawa ke Monas sambil memperkenalkan sejarah dan kejadian-kejadian yang dilalui oleh para pejuang bangsa Indonesia sambil jalan-jalan sehingga anak merasa senang. Walaupun Nizma baru kelas 2 SD, tapi dia terbilang cerdas. Apa yang saya jelaskan mudah dipahaminya. Alhamdulillah, ya, Allah, saya bersyukur kepada-Mu atas karunia yang Engkau berikan.

Dia putri tunggal tapi mengerti apa kewajibannya sebagai seorang anak. Walaupun dia kumanjakan, mungkin saya terlalu berlebihan, tapi diatahu aturan.

Saya selalu menerapkan disiplin mulai dari dia belum masuk TK. Setiap hari selalu saya beri PR untuk dikerjakan. Malamnya, saya pulang mengajar memeriksa pekerjaannnya. Alhamdulillah setiap PR bisa dikerjakan.

Hal ini saya lakukan sampai Nizma lulus SD. Padahal dari TK kegiatan Nizma padat.

PERJALANAN TK Putriku (Nizma Permaisuari)

Nizma masuk TK Islam An-Nuriyah ketika berumur 4 tahun. Dia pergi sekolah diantar oleh bibi suami. Setelah beberapa bulan baru naik jemputan.

Kegitan sehari-harinya : pagi berangkat sekolah. di sekolah sampai pukul 12.00. Nizma TK pulang pukul 12.00 karena selesai belajar di kelas langsung TPA di TK itu. Karena ikut jemputan, kadang-kadang sampai rumah pukul 13.00. Sampai rumah dia ganti baju, makan, dan langsung mengerjakan PR yang diberikan dari sekolah dan dari saya. Pukul 15.00 dia siap-siap untuk berangkat les dengan jadwal tiap hari berbeda-beda.

Monas, 18 Maret 2001

Monas, 18 Maret 2001

Pondok Indah Mall, 16 Juli 2010

Pondok Indah Mall, 16 Juli 2010

Cilandak Town Square

Cilandak Town Square

Juli 2010

Bulan Juli 2010 merupakan hari bahagiaku. Kebahagianku yang pertama putri semata wayang ultah yang ke-17. Tepatnya tanggal 16 Juli 2010.  Tak terasa anakku telah menginjak dewasa. Kebahagian yang kedua tepatnya tanggal 22 Juli 2010, saya dan teman-teman jalan-jalan ke Singapura dan Malaysia. Saya tidak lupa membawa putriku. Kebahagian yang ketiga Alhamdulillah saya mengganti kendaraan roda empat. Alhamdulillah. ya,  Allah, rezeki yang telah dilimpahkan kepada kami. Saya bersyukur kepada-Mu, ya, Robbi atas kebahagian yang telah Engkau berikan.

Saya dan teman-teman berangkat pesawat yang pertama. Saya dari rumah pukul 03.30 dinihari. Shalat subuh di bandara. Perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Saya sampai di Bandara Changi.

Husnul Hotimah
Husnul Hotimah
Nizma Permaisuari

Nizma Permaisuari

 

 Sesampainya di bandara kami pun  mengabadikan dulu, Gaya, AH……

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.